h1

die as syuhada

June 19, 2008

Hudzaifah.org – Pada zaman Rasulullah SAW hiduplah seorang pemuda yang
bernama Zahid yang berumur 35 tahun namun belum juga menikah. Dia tinggal di
Suffah masjid Madinah. Ketika sedang memperkilat pedangnya tiba-tiba
Rasulullah SAW datang dan mengucapkan salam. Zahid kaget dan menjawabnya
agak gugup.

“Wahai saudaraku Zahid..selama ini engkau sendiri saja,” Rasulullah SAW
menyapa. “Allah bersamaku ya Rasulullah,” kata Zahid. “Maksudku kenapa
engkau selama ini engkau membujang saja, apakah engkau tidak ingin
menikah.,”kata Rasulullah SAW. Zahid menjawab, “Ya Rasulullah, aku ini
seorang yang tidak mempunyai pekerjaan tetap dan wajahku jelek, siapa yang
mau denganku ya Rasulullah?” ” Asal engkau mau, itu urusan yang mudah!” kata
Rasulullah SAW.

Kemudian Rasulullah SAW memerintahkan sekretarisnya untuk membuat surat yang
isinya adalah melamar kepada wanita yang bernama Zulfah binti Said, anak
seorang bangsawan Madinah yang terkenal kaya raya dan terkenal sangat cantik
jelita. Akhirnya, surat itu dibawah ke rumah Zahid dan oleh Zahid dibawa
kerumah Said. Karena di rumah Said sedang ada tamu, maka Zahid setelah
memberikan salam kemudian memberikan surat tersebut dan diterima di depan
rumah Said. “Wahai saudaraku Said, aku membawa surat dari Rasul yang mulia
diberikan untukmu saudaraku.” Said menjawab, “Adalah suatu kehormatan
buatku.” Lalu surat itu dibuka dan dibacanya. Ketika membaca surat tersebut,
Said agak terperanjat karena tradisi Arab perkawinan yang selama ini
biasanya seorang bangsawan harus kawin dengan keturunan bangsawan dan yang
kaya harus kawin dengan orang kaya, itulah yang dinamakan SEKUFU.

Akhirnya Said bertanya kepada Zahid, “Wahai saudaraku, betulkah surat ini
dari Rasulullah?” Zahid menjawab, “Apakah engkau pernah melihat aku
berbohong..”

Dalam suasana yang seperti itu Zulfah datang dan berkata, “Wahai ayah,
kenapa sedikit tegang terhadap tamu ini.. bukankah lebih disuruh masuk?”
“Wahai anakku, ini adalah seorang pemuda yang sedang melamar engkau supaya
engkau menjadi istrinya,” kata ayahnya. Disaat itulah Zulfah melihat Zahid
sambil menangis sejadi-jadinya dan berkata, “Wahai ayah, banyak pemuda yang
tampan dan kaya raya semuanya menginginkan aku, aku tak mau ayah…!” dan
Zulfah merasa dirinya terhina. Maka Said berkata kepada Zahid, “Wahai
saudaraku, engkau tahu sendiri anakku tidak mau.bukan aku menghalanginya dan
sampaikan kepada Rasulullah bahwa lamaranmu ditolak.” Mendengar nama Rasul
disebut ayahnya, Zulfah berhenti menangis dan bertanya kepada ayahnya,
“Wahai ayah, mengapa membawa-bawa nama rasul?” Akhirnya Said berkata, “Ini
yang melamarmu adalah perintah Rasulullah.” Maka Zulfah istighfar beberapa
kali dan menyesal atas kelancangan perbuatannya itu dan berkata kepada
ayahnya, “Wahai ayah, kenapa sejak tadi ayah berkata bahwa yang melamar ini
Rasulullah, kalau begitu segera aku harus dikawinkan dengan pemuda ini.
Karena ingat firman Allah dalam Al-Qur’an surat 24 : 51. “Sesungguhnya
jawaban orang-orang mukmin, bila mereka dipanggil kepada Allah dan Rasul-Nya
agar rasul menghukum (mengadili) diantara mereka ialah ucapan. Kami
mendengar, dan kami patuh/taat”. Dan mereka itulah orang-orang yang
beruntung. (QS. 24:51)”

Zahid pada hari itu merasa jiwanya melayang ke angkasa dan baru kali ini
merasakan bahagia yang tiada tara dan segera pamit pulang. Sampai di masjid
ia bersujud syukur. Rasul yang mulia tersenyum melihat gerak-gerik Zahid
yang berbeda dari biasanya. “Bagaimana Zahid?” “Alhamdulillah diterima ya
rasul,” jawab Zahid. “Sudah ada persiapan?” Zahid menundukkan kepala sambil
berkata, “Ya Rasul, kami tidak memiliki apa-apa.” Akhirnya Rasulullah
menyuruhnya pergi ke Abu Bakar, Ustman, dan Abdurrahman bi Auf. Setelah
mendapatkan uang yang cukup banyak, Zahid pergi ke pasar untuk membeli
persiapan perkawinan. Dalam kondisi itulah Rasulullah SAW menyerukan umat
Islam untuk menghadapi kaum kafir yang akan menghancurkan Islam.

Ketika Zahid sampai di masjid, dia melihat kaum Muslimin sudah siap-siap
dengan perlengkapan senjata, Zahid bertanya, “Ada apa ini?” Sahabat
menjawab, “Wahai Zahid, hari ini orang kafir akan menghancurkan kita, maka
apakah engkau tidak mengerti?”. Zahid istighfar beberapa kali sambil
berkata, “Wah kalau begitu perlengkapan kawin ini akan aku jual dan akan
kubelikan kuda yang terbagus.” Para sahabat menasehatinya, “Wahai Zahid,
nanti malam kamu berbulan madu, tetapi engkau hendak berperang?” Zahid
menjawab dengan tegas, “Itu tidak mungkin!” Lalu Zahid menyitir ayat sebagai
berikut, “Jika bapak-bapak, anak-anak, suadara-saudara, istri-istri kaum
keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu
khawatiri kerugiannya dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih baik kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya (dari) berjihad di jalan-Nya. Maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik.” (QS. 9:24).
Akhirnya Zahid (Aswad) maju ke medan pertempuran dan mati syahid di jalan Allah. Rasulullah berkata, “Hari ini Zahid sedang berbulan madu dengan bidadari yang lebih cantik daripada Zulfah.” Lalu Rasulullah membacakan Al-Qur’an surat 3 : 169-170 dan 2:154). “Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur dijalan Allah itu mati, bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rizki. Mereka dalam keadaan gembira disebabkan karunia Allah yang diberikan-Nya kepada mereka, dan mereka bergirang hati terhadap orang-orang yang masih tinggal dibelakang yang belum menyusul mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati”.(QS 3: 169-170).

“Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan
Allah, (bahwa mereka itu) mati, bahkan (sebenarnya) mereka itu hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya.” (QS. 2:154).

Pada saat itulah para sahabat meneteskan air mata dan Zulfahpun berkata, “Ya Allah, alangkah bahagianya calon suamiku itu, jika aku tidak bisa
mendampinginya di dunia izinkanlah aku mendampinginya di akhirat.”

..

..

%d bloggers like this: