h1

apa uang saku aku hasil korupsi ?

June 23, 2008

–> KEPADA Yth bapakku di rumah. Assalamualaikum wr. wb. Bapak, bagaimana kabarnya, semoga bapak baikbaik saja. Bapak, terima kasih atas uang yang telah dikirimkan.Tapi, semakin lama semakin saya dewasa dan mata saya terbuka bahwa kekayaan bapak melebihi gaji bapak. Mm… kalau saya boleh tahu Pak, apakah uang saku saya itu adalah uang korupsi…?

Kutipan di atas adalah penggalan surat yang dibuat oleh Dermala Restu Anantyas. Siswi SD Pleburan 6, Jawa Tengah. Dermala menjadi salah satu peserta lomba menulis surat antikorupsi yang diikuti sekitar 500 siswa SD se-Jateng. Berikut surat Dermala selengkapnya seperti dilansir Jawa Pos (6/01/0 8)

–> KEPADA Yth bapakku di rumah. Assalamualaikum wr. wb. Bapak, bagaimana kabarnya, semoga bapak baikbaik saja. Bapak, terima kasih atas uang yang telah dikirimkan.

Tapi, semakin lama semakin saya dewasa dan mata saya terbuka bahwa kekayaan bapak melebihi gaji bapak. Mm… kalau saya boleh tahu Pak, apakah uang saku saya itu adalah uang korupsi…?

“…Kalau memang benar, bertobatlah Pak, dan kembalilah ke jalan yang benar. Aku rela hidup sederhana dan mengukir prestasi tidak dengan hasil korupsi, karena banyak rakyat yang menderita sementara kita hidup foya-foya…”

Ide kampanye antikorupsi untuk anak SD dengan cara menulis surat ini saya pikir sangat unik, orisinil dan bisa berdampak positif luar biasa. Pertama, dengan menulis surat, maka isi tulisan akan berbentuk percakapan yang menjadikan isinya lebih hidup. Kedua, dengan penyadaran dan sosialisasi buruknya korupsi sejak dini, diharapkan tidak saja akan membangkitkan kesadaran antikorupsi sejak masa anak-anak bagi peserta kontes dan mereka yang membacanya, tapi juga menjadi peringatan “lampu merah” bagi bapak-bapak mereka yang mungkin sedang berasyik-masyuk menjadi maling terhormat di kantor masing-masing.

Ketiga, menanamkan sikap hidup bermartabat yang hakiki: bahwa hidup bermartabat dan terhormat itu adalah hidup dalam kejujuran, berintegritas sehingga memiliki kredibilitas bukan hanya di mata lingkungan sekitar tapi juga akan membawa rasa bangga pada diri sendiri.

Anak Gedongan, Anak Maling

Dulu, dan mungkin masih banyak juga saat ini, anak-anak pejabat sangat bangga disebut “anak gedongan.” Konsep anak gedongan adalah dia anak pejabat tinggi, kebal hukum, banyak duit dan bergelimang harta. Tak ada seorang pun yang mempertanyakan dari mana bapak si anak gedongan itu mendapatkan uang begitu banyak yang dihambur-hamburkan si anak. Semua teman di sekitarnya sibuk memuji-muji dan menjilat kaki si anak gedongan agar mendapat remah-remah bagian kemewahan.

Saya kira sudah tiba waktunya sekarang untuk merubah istilah “anak gedongan” dengan “anak maling.” Anak maling yang bangga pada papanya yang menjadi maling; dan bangga pada mamah-nya yang sibuk belanja tiada henti.

Saya kira, kepada anak-anak maling ini, perlu kita suarakan pertanyaan sederhana di bawah ini, Anda boleh menanyakan secara terbuka maupun cukup dalam hati:

–> Anak maling, mengapa kamu mesti bangga pada kemalingan Bapak-mu?

..

..

%d bloggers like this: