h1

blogger di mata roy suryo

June 23, 2008

…lebih baik jangan mempercayai blog karena saat ini banyak sekali orang yang membuat blog dengan menggunakan nama-nama palsu. Hal ini menunjukkan kredibilitas blog sulit dipercaya.

Saya tidak kenal Roy Suryo dan tentu saja dia juga tak kenal saya. Saya juga tidak punya masalah pribadi dengan dia, online maupun offline. Di kalangan blogger senior (saya tidak termasuk), Roy jadi perbincangan yang kurang sedap karena sejumlah komentar sinisnya yang cenderung anti blog and anti blogger. Rupanya komentar sinis itu dia ulangi lagi, salah satunya, seperti dikutip di atas.

Bagaimana kita bersikap?

Pertama, apa yang selalu saya lakukan ketika menerima kritik adalah mendengarkan dengan baik isi kritikan tersebut. Adakah poin penting dalam kritik itu yang perlu diperhatikan atau hanyalah kritik sampah belaka? Apabila mengandung poin yang penting, maka biasanya itu saya jadikan masukan untuk langkah saya berikutnya; sebaliknya apabila kritik itu ditimbulkan oleh ketidakpahaman si pengeritik, maka biasanya saya cuekin. Tidak ada gunanya membalas kritikan sampah yang timbul dari ketidakpahaman.

“Sayangnya”, poin Roy di atas menurut saya cukup relevan. Dan saya setuju pada pemahaman implisit dari kritikannya tersebut: bahwa kita–komunitas blogger– hendaknya memakai nama terang, bukan anonim sebagai tanda bahwa kita bertanggung jawab pada apa yang kita tulis. Dan dengan demikian kita akan lebih mendapat “respek” dari pihak yang jadi sasaran tulisan kita.Terutama, apabila tulisan kita menyangkut kritikan baik pada pribadi maupun pada institusi. Saya sudah membuat tulisan serial dalam soal ini (dalam bahasa Inggris) yang banyak ditentang blogger (terutama yang anonim). Dalam hal ini, saya lebih menghargai Roy Suryo yang, dengan identitas jelas, mengeritik sebagian komunitas blogger yang memakai nama samaran atau palsu, dibanding kalangan blogger kritis pada berbagai isu SARA tapi bersembunyi di balik nama samaran.

Keberadaan blogger “kritis” yang tidak berani menyebut identitas dirinya bagi saya membuka peluang selebar-lebarnya bagi kalangan yang tak suka blog untuk menyerang kalangan blogger secara umum sebagaii kalangan tak bertanggung jawab. Generalisasi, seperti yang dilakukan Roy Suryo, memang naif. Tapi, kita tidak dapat menyangkal tuduhan itu secara komprehensif karena faktanya memang ada di kalangan blogger yang melakukan ini (pemalsuan identitas diri).

Kedua, soal kritikan Roy Suryo yang lain, seperti “blog hanya tren sesaat” atau tudingan Ahmad Dhani Dewa bahwa “blog hanya buat orang kurang kerjaan dan bodoh” bagi saya tidak perlu ditanggapi. Seandainya lokasi saya dekat dengan mereka, tentu saya akan meminta waktu untuk menjelaskan seputar masalah blog ini dengan mereka. Namun karena secara geografis kita berjauhan, maka kritik yang timbul dari ketidaktahuan seperti itu cukup dicuekin. Menanggapai tudihan bodoh hanya akan membuat kita bodoh juga.

Satya Sembiring memuat kutipan lengkap pendapat Roy Suryo yang dilansir Detik.com sbb:

Roy dengan tegas menyatakan bahwa dirinya tidak pernah punya blog. “Tidak, saya tidak pernah nge-blog dan tidak pernah punya blog karena blog sifatnya hanya tren sesaat,” tegas Roy saat berbincang dengan detikINET via telepon, Selasa (26/2/2008). Soal nama ‘Roy Suryo’ dicatut beberapa blogger, Roy mengaku tidak mempermasalahkannya. “Anggap saja blog seperti orang membuang sampah. Saya capek melayani orang kayak gitu. Itulah yang tidak saya sukai dari blog. Blog tidak bertanggung jawab, bahkan blogger itu tukang tipu,” tandasnya.Tukang tipu? Roy mengklaim banyak blogger yang memajang informasi fiktif dan bohong-bohongan, seperti halnya kasus blogger Solo yang meninggal dunia setelah mem-posting mimpinya di blog. Menurut Roy blog tidak bisa dipercaya 100 persen. Roy menyarankan lebih baik jangan mempercayai blog karena saat ini banyak sekali orang yang membuat blog dengan menggunakan nama-nama palsu. Hal ini menunjukkan kredibilitas blog sulit dipercaya.

Bagi kalangan blogger, kritikan dari Roy Suryo, Ahmad Dhani Dewa dan dari siapapun hendaknya jadi momen instrospeksi untuk selalu memperbaiki konten blog dan identitas yang punya blog (blogger). Kalau kredibilitas kita sebagai blogger (baca, pembawa berita dan opini di blog masing-masing) dipertanyakan karena kita memakai nama palsu, maka itu harus kita dengar. Kalau dunia maya (termasuk blog) ingin disejajarkan dengan dunia nyata, maka langkah pertama yang perlu dilakukan adalah: sebutkan identitas lengkap (minimal nama asli dan kualifikasi pendidikan atau pekerjaan). Karena dunia nyata tidak pernah mengenal nama samaran atau nama palsu. Hanya kalangan penipu yang melakukan pemalsuan nama di dunia nyata dan para blogger tentunya tidak ingin disejajarkan dengan kelompok terakhir ini bukan?

..

..

%d bloggers like this: